<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7059041764312322596</id><updated>2011-10-13T00:45:50.399+07:00</updated><title type='text'>BAKYAK PROGRESIF</title><subtitle type='html'>Meretas Kebekuan Turats</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Khoirul Anwar (Awank Farabi)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18143257713181971243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-tO-GBfJeT24/TkvvluGOkTI/AAAAAAAAAD8/j03XRNEa9Qs/s220/IMG_0621.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7059041764312322596.post-1918781564002767781</id><published>2010-07-08T14:17:00.002+07:00</published><updated>2010-07-08T14:24:46.523+07:00</updated><title type='text'>ISRA’ MI’RAJ DALAM RENUNGAN SUFISTIK</title><content type='html'>Oleh: Khoirul Anwar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada seorang pun yang mengatakan Dialah yang Esa kecuali Ahmad Saw., &lt;br /&gt;hanya padanya Dia tampak dalam penglihatan batin saat Mi’raj.”&lt;br /&gt;[al-Hallaj] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup nabi Muhammad Saw., di mana beliau diperjalankan dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal menuju Sidrat al Muntaha hingga bertatap muka dengan Allah. Peristiwa ini dikemudian hari hingga kini terus diperingati oleh umat Islam tiap bulan Rajab. &lt;br /&gt;Para sejarawan muslim klasik berbeda pendapat terkait kapan sebenarnya peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi. Ibn Sa’d dan al-Waqidiy berpendapat, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadlan. Ibn al-Munir dan al-Harbi mengatakan, terjadi pada malam 27 Rabiul Akhir. Sementara al-Nawawi memilki tiga pendapat, dalam Syarh Muslim ia mengatakan terjadi pada bulan Rabiul Akhir, dalam Fatawanya ia berpendapat pada bulan Rabiul Awal, sedangkan dalam kitabnya yang bertitel Raudlah al-Thalibin ia berpegang pada pendapat yang menyatakan terjadi pada bulan Rajab. Terlepas dari kesimpang siuran pendapat tersebut yang jelas umat Islam merayakannya tiap bulan Rajab. Hal ini mungkin yang lebih mendekati kebanaran, sebagaimana yang didakwakan oleh Jalaluddin al-Suyuthi bahwa pendapat yang masyhur adalah pada bulan Rajab.  &lt;br /&gt;Begitu juga terkait tempat di mana nabi Saw. diperjalankan, dalam keadaan terjaga ataukah tidur, hanya sekali ataukah berulang kali dan lain sebagainya, para sejarawan tidak lepas dari perbedaan pendapat.  Karena sempitnya ruang pena dan sedikit manfaatnya, tulisan ini tidak akan mengkaji Isra’ Mi’raj dalam dimensi kesejarahannya, tapi lebih mengkonsentrasikan pada bagaimana peristiwa tersebut dihayati oleh para Sufi, mengingat –dalam pandangan penulis- hanya di tangan Sufilah Isra’ Mi’raj menemukan transformasi ajarannya.&lt;span id="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Sebagai Kaki Pijak Tujuan Tasawuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati riwayat tentang Isra’ Mi’raj sangat beragam, namun semuanya bisa disimpulkan bahwa pada intinya nabi Muhammad Saw. pernah diperjalankan oleh Allah dengan perjalanan horizontal (Isra’) dan vertikal (Mi’raj). Dalam perjalanan vertikal inilah Muhammad Saw. menaiki langit (sama’) demi langit hingga sampai ke langit tujuh. Di langit tujuh beliau bertatap muka dan berdiskusi dengan Allah yang akhirnya menghasilkan kewajiban bagi diri dan umatnya shalat lima kali dalam sehari semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tasawuf peristiwa tersebut tidak hanya dijadikan sebagai momen bersejarah yang hampa makna, tapi dijadikan sebagai simbol inspirasi perjalanan mistikus di mana manusia bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhannya. Oleh karena itu penyaksian alam malakut atau tersingkapnya tabir ke-Tuhanan (musyahadah) dalam dunia tasawuf menjadi tujuan akhir pencarian kejernihan jiwa bagi para sufi. Dalam kisah Isra’ Mi’raj nabi Muhammad Saw. diungkapkan bahwa beliau bisa bertemu dengan Tuhannya dengan melewati tujuh langit, ini artinya bahwa umatnya juga bisa bermusyahadah dengan Allah tapi harus melalui beberapa maqam (terminal-terminal), atau derajat yang harus dilalui untuk menjadi ‘Arif billah. Maqam tersebut sangat banyak sekali jumlahnya  sebagaimana arti bilangan tujuh yang berarti menunjukkan jumlah tak terhitung. Sebagai sample QS. 2: 261 dan QS. 31: 27, dalam kedua ayat ini kata tujuh tidak diartikan sebagai hitungan eksak dalam arti bilangan tujuh, tapi jumlah yang sangat banyak. Kendati demikian, maqamat dalam standar sunni jumlahnya ada tujuh, sebagaimana arti literal kata sab’ al-Samawat (tujuh langit). Tujuh terminal tersebut ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Taubat, Menurut Dzu al-Nun al-Mishri, taubat terbagi menjadi dua, taubatnya orang awam yaitu taubat dari dosa-dosa dan taubatnya orang khawas, taubat dari lalai kepada Tuhan (ghaflah).&lt;br /&gt;2. Wara’, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas halal dan haramnya. Dalam hal ini seseorang harus selalu mengupayakan dirinya untuk makan sesuatu yang halal. &lt;br /&gt;3. Zuhud, artinya seseorang tidak tamak atau mengharapkan pemberian dari orang lain dan tidak mengutamakan kesenangan dunia.&lt;br /&gt;4. Fakir, seseorang di dalam hatinya tidak boleh merasa memiliki sesuatu dan sangat membutuhkan Allah.&lt;br /&gt;5. Sabar, dalam menghadapi bencana seseorang harus menyikapinya dengan etika yang baik (husn al-Adab).&lt;br /&gt;6. Tawakkal, hanya berpegang teguh pada Allah sebagai Tuhan yang maha memelihara (Rabb al-‘Alamin).&lt;br /&gt;7. Ridla, hati selalu menerima ketentuan Tuhan (Taqdir) baik manis maupun pahit. Sebagaimana dikatakan Al-Nuri bahwa ridla adalah kegembiraan hati menghadapi “pahitnya ketentuan Tuhan”. Ibn Khafif menambahkan, ridla juga berarti menyetujui terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya dan yakin bahwa itulah yang terbaik dan diridlai oleh-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara urut ketujuh maqam ini harus dilalui secara tertib, karena dalam tiap perpindahan dari satu maqam ke maqam yang lain sufi akan mengalami perubahan psikis-emosional atau yang biasa disebut dengan hal. Dalam maqam terakhir sufi akan mengalami gejolak spiritual yang mengagumkan dan itu merupakan derajat tertinggi, yaitu mi’raj (naik ke atas) atau biasa disebut dengan ektase, mabuk kepayang hingga klimaknya “face to face” dengan Tuhan bahkan menyatu dengan-Nya, atau dalam bahasa Abu Yazid al-Busthami “Allah adalah Aku” dan “Aku adalah Allah”. Dalam salah satu perkataanya Abu Yazid al-Busthami menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu ketika Dia mengangkatku ke atas, menempatkanku dihadapan-Nya.&lt;br /&gt;Dia berkata kepadaku, Wahai Abu Yazid, makhluk-Ku akan senang mencarimu.&lt;br /&gt;Aku berkata pada-Nya, Hiasilah aku dengan wahdaniyyah-Mu, pakaianku dengan ananiyyah-Mu, dan angkatlah aku ke ahadiyah-Mu, hingga ketika makhluk-Mu melihatku,&lt;br /&gt;mereka berkata, Kami telah melihat-Mu dan Engkau akan menjadi hal itu dan aku tidak akan ada di situ.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman mistis tersebut merupakan pengalaman keagamaan yang sejati. Al-Ghazali, dalam menggambarkan hakikat mengatakan, ketika seseorang naik kepuncak hakikat maka tiada wujud yang nampak selain wujud al-Wahid al-Haq (hanya eksistensi Tuhan yang Esa), seseorang selalu ingat Allah sekalipun kepada dirinya sendiri, tidak ada yang lain kecuali Allah, mereka mabuk kepayang hingga mengalahkan fungsi akalnya. Klimaknya terucaplah kata Ana al-Haq (Aku adalah yang maha benar), Subhani (Maha suci Aku), Ma A’dzam Sya’ni (Alangkah besarnya Aku) Ma fi al-Jubah illallah (di dalam jubahku hanya ada Allah). &lt;br /&gt;Dalam kitabnya yang lain, Ihya ‘Ulum al-Din, ketika membahas tingkatan tauhid ia mengatakan, tauhid tertinggi (urutan ke empat) adalah seseorang tidak melihat dalam wujud kecuali al-Wahid (Tuhan yang Esa). Seseorang tidak melihat dirinya sendiri karena tenggelam ke dalam tauhid-Nya, ia lenyap dari pada melihat dirinya sendiri dan makhluk lain, atau dalam bahasa tasawuf dikenal dengan al-Fana. &lt;br /&gt; Dengan demikian, bagi  kaum  Sufi pengalaman  nabi  Muhammad Saw. dalam  Isra Mi'raj dijadikan sebagai contoh pengalaman  ruhani tertinggi, pengalaman yang sangat menggembirakan dan hanya bisa dirasakan oleh sang empunya. Dalam  salah satu sabdanya nabi Muhammad Saw. menggambarkan sebagai "Sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata,  tak  terdengar oleh  telinga,  dan  tak terbetik dalam hati manusia.” Bagaikan rasa manis madu, seseorang tidak akan pernah bisa merasakannya tanpa mencicipi sendiri. Sebab dalam musyahadah itu, segala rahasia kebenaran tersingkap (Kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur dan sirna (fana’) dalam Kebenaran. Menurut al-Busthami pengalaman yang sangat membahagiakan ini bersifat selamannya, bahkan lebih abadi ketimbang kenikmatan sorga, karena menurut beliau kenikmatan sorga memiliki durasi waktu.  Oleh karena itu, walaupun pengalaman tersebut hanya terjadi satu kali dan sesaat sebagaimana Isra’ Mi’raj Muhammad Saw. yang hanya semalam tapi relevansinya bagi pembentukkan moral akan bersifat selamanya karena si empunya telah berhasil menangkap kebenaran. &lt;br /&gt; Memang tidak sedikit orang yang menganggap kesatuan Tuhan dan manusia (jawa: Manunggale Kawula Gusti) sebagai ajaran sesat. Pandangan demikian pada dasarnya terpengaruh oleh kaum literalis (Ahl al-Dzahir) yang mengutuk mati-matian terhadap para promotornya, atau mungkin gara-gara promotornya mati ditiang gantung (dihukum mati), sebagaimana yang menimpa al-Hallaj, Syuhrawardi al-Maqtul, Siti Jenar dan yang lainnya.&lt;br /&gt; Syahdan, apa yang dituduhkan oleh kalangan literalis sama sekali tidak berdasar dan irasional, karena pengalaman mistis kaum sufi bersifat pribadi dan tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain. Sebagaimana penjelasan di atas bahwa hanya pelakunyalah yang bisa merasakan, dengan demikian sangat tidak patut jika seseorang menghakimi pengalaman ruhani sufi yang tidak terlihat. Sementara pernyataan vonis hukuman mati berdasarkan “tuntutan agama”, sungguhpun hal tersebut tak lebih dari pembiasan dan pembiusan sejarah. Sejarah membuktikan bahwa jatuhnya vonis lucu itu murni sebagai kepentingan politik. Sebagai sample, al-Hallaj diadili dan dihukum mati karena ia memiliki pengikut yang begitu banyak, di mana pun ia berada maka di situlah manusia berkerumunan, ke mana pun al-Hallaj pergi maka mereka mengikuti langkahnya, sementara pada saat itu pemerintah hendak mendirikan Negara, sehingga bani ‘Abbas yang saat itu memegang tampuk kepemimpinan merasa gundah, khawatir tidak mendapat dukungan.  Akhirnya sebagaimana lazimnya politik kotor, al-Hallaj dicekal, pemerintah mewajibkan kepada rakyatnya agar selalu waspada terhadap al-Hallaj, tapi karena masyarakat sudah benar-benar mendarah daging dengannya, himbauan pemerintah sama sekali tidak dihiraukan. Sebagai alternatif andalan, penguasa yang bertindak sewenang-wenang itu mengajukan saksi-saksi palsu dengan menjanjikan kedudukan yang tinggi dan materi yang berlimpah ruah kepada para penegak hukum guna memfitnah dan menghakimi al-Hallaj.  akhirnya kepala “kekasih Allah (wali Allah)” harus jatuh menggelundung terpenggal pedang. Begitu juga yang terjadi pada sufi martir lainnya, semuannya hanya berdasarkan tuntutan politik kotor penguasa yang menjadi budak nafsu (‘Abd al-Hawa). Begitulah pelecehan intlektual yang sering terjadi di sepanjang sejarah. Semoga sekarang dan di masa yang akan datang penindasan intlektual tidak lagi terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensitas Renungan Isra’ Mi’raj Sufistik Bagi Manusia Kekinian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tindakan amoral yang bergelimang di kanan kiri kita, mulai dari penindasan masyarakat miskin, kebejadan sebagian pemerintah yang dengan seenaknya ngemplang duit rakyat, hingga penyakit-penyakit sosial lain seperti yang baru-baru ini “tontonan nge-Seks”, kiranya sudah cukup menjadi bukti betapa absurdnya pakerti manusia moderen. Sementara di sisi lain “bayangan fatamorgana kesalehan umat Islam” bertumbuh subur. Banyak orang yang mengenakan jubah, berjenggot, berudeng-udeng ala Rasulillah Saw. mondar mandir bawa tasbih, tapi hati mereka tak sesaleh pakaiannya. Mungkin orang-orang seperti inilah yang pernah disaksikan oleh Syaikh Abu Bashir pada abad ke-2 Hijriyah. Al-Kisah, suatu  ketika pada musim haji Abu Bashir berada di Masjid al-Haram, ia terpesona menyaksikan ribuan orang bergerak thawaf mengelilingi Ka’bah, seraya mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir dari mulut mereka. Saat pertama kali melihat, Abu Bashir membayangkan, betapa beruntungnya orang-orang itu, mereka telah mendapat panggilan Tuhan, tentunya mereka semua akan mendapat pahala dan ampunan-Nya. Imam Ja’far al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah satu ulama besar dari keluarga Rasulullah Saw. begitu menyaksikan kekaguman Abu Bashir, ia langsung berkata, “Inginkah aku tunjukkan kepadamu siapa sebenarnya mereka?”, lalu Imam Ja’far menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Kemudian Imam Ja’far mengusap wajahnya. Ketika membuka lagi matanya, Abu Bashir terkejut. Di sekitar Ka’bah, ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya, ada yang mendengus, melolong, dan menggaung. Imam Ja’far berkata, “Betapa banyaknya lolongan dan gaungan dan betapa sedikitnya orang yang benar-benar berhaji.” Bagian luar mereka saleh, tapi hatinya busuk menjijikan. Bukankah Imam al-Ghazali sendiri ketika shalat, hanya gara-gara memikirkan persoalan menstruasi, dimata adiknya, Ahmad al-Ghazali, terlihat berlumuran darah. Entah kita tidak bisa membayangkan, anatomi wakil rakyat yang korupsi dan orang yang jual-beli agama demi mempertahankan status quo dimata para ‘Arif billah.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah “realitas kusut” ini telah tiba hari besar umat Islam, hari di mana nabi di Isra’ Mi’rajkan oleh Sang pemilik jagat raya, ini tentunya momen terbaik bagi umat Islam untuk membersihkan dimensi spiritualnya yang selama ini terendap oleh lumpur-lumpur kejahiliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Merayakan Isra’ Mi’raj dengan cara memaksa diri untuk menggapai satu maqam ke maqam yang lain, menggapai maqam taubat untuk sampai ke wara’, dari wara’ ke zuhud, zuhud ke fakir, dilanjutkan maqam sabar, tawakkal dan ridla hingga tergapailah jalinan intim dengan Tuhan sebagaimana yang telah disusun secara apik oleh para sufi, tentu merupakan keharusan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Perlu ditegaskan di sini, bahwa berusaha berada di satu maqam ke maqam lain yang berarti “nyufi” (menjalankan ajaran tasawuf) bukan berarti bertolak dengan profesi, tapi malah memberikan motivasi kepada pelakunya untuk selalu dinamis. Di sepanjang sejarah bisa dibuktikan misalnya Umar Ibn Abdul Aziz, beliau pelaku ajaran tasawuf berprofesi sebagai pemimpin Negara yang sangat sukses. Junaid al-Baghdadi, ahli tasawuf, beliau menjadi pengusaha botol. Abu Sa’id al-Kharraz, sufi, berprofesi sebagai pengusaha konveksi. Al-Hallaj, sufi, syaikh al-Akbar, juga sukses sebagai pengusaha tenun. Hal ini membuktikan bahwa tasawuf sama sekali bukan sebagai faktor yang menjadikan umat Islam tertinggal, kolot dan terbelakang tapi malah sebaliknya. Karena ber-Isra’ Mi’raj dengan menjalankan ajaran taubat seseorang akan menyadari bahwa selama ini dirinya telah berbuat angkara murka terhadap sesama, menindas masyarakat pinggiran dan lain-lain. Dengan menanamkan sifat wara’, zuhud, fakir, sabar dan yang lainnya seseorang akan tercegah dari tindakan mencuri, merampok, korupsi dan terhindar dari budaya hedonisme dan konsumerisme yang kian hari terus menggerus masyarakat.  &lt;br /&gt;Dengan demikian Isra’ Mi’raj tidak hanya dimonopoli oleh nabi Muhammad Saw., Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, tapi manusia moderen juga bisa ber-Isra’ Mi’raj, naik ke langit untuk bertemu dengan Tuhan, kendati kemungkinan sampai pada “muka Allah” sangat tipis terjadinya. Tapi paling tidak seseorang bisa terbang ke atas (Baca: meninggalkan dan menjahui) tindakan amoral yang bergelimang di bumi kehidupan. Akhir Qauli “Selamat ber-Isra’ Mi’raj, semoga berhasil sampai tujuan ”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7059041764312322596-1918781564002767781?l=awankfarabi88.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/feeds/1918781564002767781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7059041764312322596&amp;postID=1918781564002767781' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/1918781564002767781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/1918781564002767781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/2010/07/isra-miraj-dalam-renungan-sufistik.html' title='ISRA’ MI’RAJ DALAM RENUNGAN SUFISTIK'/><author><name>Khoirul Anwar (Awank Farabi)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18143257713181971243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-tO-GBfJeT24/TkvvluGOkTI/AAAAAAAAAD8/j03XRNEa9Qs/s220/IMG_0621.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7059041764312322596.post-1657248651012323787</id><published>2010-02-26T17:14:00.002+07:00</published><updated>2010-02-26T17:21:58.477+07:00</updated><title type='text'>MENG"ISLAM"KAN PERAYAAN VALENTINE'S DAYS</title><content type='html'>Oleh : Khoirul Anwar&lt;br /&gt;Selama ini Valentine's Days atau biasa disebut sebagai hari kasih sayang, dipahami oleh kalangan muda-mudi sebagai hari untuk mencurahkan rasa "cinta-kasih" kepada lawan jenis, tepatnya setiap tanggal 14 Febuari. Biasanya mereka mengekspresikannya dengan berhura-hura ria, mendatangi tempat wisata, pesta dan yang lainnya, berdansa semalam suntuk, saling memberi hadiah coklat, bunga dan kegiatan-kegiatan maksiat lainnya. Bahkan sebagian mereka menebar rasa "cinta-kasihnya" dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya boleh dikerjakan oleh pasangan suami-istri.&lt;br /&gt;Tidak bisa disangkal, perayaan tersebut merupakan tradisi buruk, namun selalu ramai dan meriah disetiap datang tanggal mainnya. Bahkan menurut kebanyakan remaja, dianggap lugu, kurang gaul atau ketinggalan zaman bagi yang tidak merayakannya. Oleh karena itu pantaslah jika perayaan tersebut selalu diagendakan oleh kalangan muda-mudi, padahal -sebagaimana disabdakan oleh nabi Muhammad saw.- pemuda adalah sentral dari kemajuan atau kemunduran suatu bangsa dan agama, jika moral pemuda baik maka agama dan bangsa menjadi maju. Namun sebaliknya, jika moral pemuda bangsa bejad maka bangsa dan agama pun akan menjadi terpuruk. Valentine's Days selama ini dijadikan ajang pesta pora yang merugikan para remaja, kendati demikian, perayaan ini selalu mendapat dukungan dari sebagian masyarakat. Dengan bukti disetiap menjelang kehadirannya, banyak yang menyediakan peralatan-peralatan untuk memeriahkannya, seperti menjual bunga berlabel selamat Valentine's Days, coklat, periasan tempat-tempat hiburan dan tidak sedikit kalangan elit yang ikut serta merayakannya. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Latar Kesejarahan Valentine's Days&lt;br /&gt;Banyak versi yang mengkisahkan asal muasal Perayaan tersebut. diantaranya adalah; Valentine's Day berasal dari perayaan Lupercali, yaitu upacara ritual yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno setiap tanggal 15 Februari sebagai penghormatan kepada dewa padang rumput yang bernama Lupercus. Ia dideskripsikan memiliki tanduk, kaki dan telinga seperti kambing. Dalam perayaan tersebut nama-nama wanita ditulis dikertas, lalu dimasukkan kedalam jambangan bunga. Setiap pria yang hadir dipersilahkan mengambil selembar kertas yang telah disediakan. Bagi wanita yang namanya tertera dalam kertas tersebut, maka ia menjadi teman kencannya semalam suntuk. &lt;br /&gt;Kemudian paus Celecius merubah perayaan tersebut menjadi tanggal 14 Februari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang bernama Saint Valentine yang tewas sebagai martir (mati demi mempertahankan prinsip-prinsipnya atau syahid, kalau dalam islam) dan menetapkannya menjadi Saint Valentine's Day.&lt;br /&gt;Al kisah, Pada tahun 269 M. kaisar Romawi yaitu Raja Cladius II melarang para pemuda-pemudi untuk menikah, ia menginginkan agar semua pemuda menjadi tentara dan pergi berperang, namun secara sembunyi-sembunyi pastur Santa Valentine menikahkan mereka sepasang-pasang. Lalu tindakan tersebut diketahui oleh  sang kaisar. Sangkin murkanya, kaisar memutus jalinan pernikahan semua pemuda dengan pasangannya masing-masing dan menagkap Valentine untuk dipenjara, dan akhirnya pada tanggal 14 Februari 270 M. pastur Valentine harus mengakhiri hidupnya dengan dihukum pancung. Semasa pastur Valentine dipenjara, para pemuda banyak yang mengirimkan surat kepadanya, surat tersebut berisikan ungkapan rasa sayang kepada -dan harapan agar mereka bisa kembali bersama- kekasihnya seperti sedia kala. Kemudian hari tersebut dirayakan oleh generasi-generasi sesudahnya terutama di Negara-negara Eropa.&lt;br /&gt;Diakui ataupun tidak, tradisi tersebut bukanlah tradisi kita, melainkan tradisi asing yang entah sejak kapan mulai merembes di halaman budaya dan dimeriahkan di negri pertiwi ini. Dengan berlabelkan Cinta, Valentine's Days kian sangat membudaya dikalangan remaja Indonesia.&lt;br /&gt;Pemaknaan Baru Valentine's Days&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan perayaan hari kasih sayang (Valentine's Days) yang dilakukan oleh para remaja disekeliling kita, sembari melihat latar kesejarahan di atas, sungguh pun perayaan tersebut –yang katanya hari tebar kasih sayang- tidak ada manfaatnya sama sekali. Bahkan perayaan Valentine's Days hanya dijadikan ajang "perlombaan maksiat". Kendati demikian, perayaan tersebut tidak bisa –jika enggan mengatakan tidak mungkin- dihilangkan, karena ia sudah mendarah daging dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan moral bangsa yang kian hari bertambah miskin yang disebabkan mblebeknya budaya barat di negri ini, tentunya yang dibutuhkan bukanlah "fatwa haram merayakan Valentine's Days" atau "mengamang-amangi pedang sembari membaca takbir", melainkan dengan memberikan pemahaman baru dan menggantikan "ritualnya" dengan kegiatan yang benar-benar tebar kasih sayang kepada sesama.&lt;br /&gt;Keberadaan Valentine's Days sebagai hari tebar kasih sayang sebenarnya sangat baik dan patut dilestarikan, hanya saja ada beberapa pemahaman yang perlu didandani yaitu terkait sasaran, motif  serta aksi pencurahannya. Nabi Muhammad saw. sendiri bersabda: "Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang memiliki sifat penyayang", (HR. Baihaqi). ini artinya bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling menyayangi kepada sesama. bahkan dalam kesempatan lain nabi bersabda; "Perumpamaan seorang Mukmin dalam percintaan, kasih-sayang dan belas kasihan terhadap sesama, laksana satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya sakit, maka rasa sakit tersebut akan menjalar kesemua anggota tubuh yang lain.(HR. Muslim). Dan masih banyak hadis-hadis lain terkait perintah ini.&lt;br /&gt;Namun, manifestasi kasih sayang dalam islam bukanlah dengan bermaksiat, melainkan dengan cara membantu dan melindungi masyarakat tertindas, dan atas dorongan mencari ridla Allah swt. Oleh karena itu sudah saatnya kita memaknai Valentine's Days dengan pemahaman yang syarat akan nilai-nilai sosial (islam). Berbagi kasih sayang dengan mengentaskan kemiskinan, memberantas kedzaliman dan menegakkan keadilan. Jika pemahaman para remaja atas Valentine's Days sudah demikian, maka sepatutnya Valentine's Days dirayakan setiap hari. Akhir Qauli "Selamat Valentine's Days". Wa Allahu A'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7059041764312322596-1657248651012323787?l=awankfarabi88.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/feeds/1657248651012323787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7059041764312322596&amp;postID=1657248651012323787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/1657248651012323787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/1657248651012323787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/2010/02/mengislamkan-perayaan-valentines-days.html' title='MENG&quot;ISLAM&quot;KAN PERAYAAN VALENTINE&apos;S DAYS'/><author><name>Khoirul Anwar (Awank Farabi)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18143257713181971243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-tO-GBfJeT24/TkvvluGOkTI/AAAAAAAAAD8/j03XRNEa9Qs/s220/IMG_0621.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7059041764312322596.post-553272776911964006</id><published>2009-03-27T01:05:00.000+07:00</published><updated>2009-03-27T01:08:15.788+07:00</updated><title type='text'>MENINJAU KEMBALI KEOTENTIKAN AL-QUR'AN</title><content type='html'>Oleh: Awank Farabi*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Iktidam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur'an adalah Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai bukti kenabiannya (Mu'jizat), dan diberi pahala jika membacanya.[1] Al-Qur'an sebagai salah satu mukjizat kenabian Muhammad Saw. berbeda dengan mukjizat-mukjizatnya yang lain,[2] Jika mukjizat-mukjizatnya yang lain bersifat temporal, Al-Qur'an bersifat abadi dan universal.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mukjizat di sepanjang masa, setiap kali ayat Al-Qur'an turun Nabi Muhammad selalu memanggil dan memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan menuliskannya. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ini merupakan upaya menjaga eksistensi dan keotentikan Al-Qur'an di masa yang akan datang, juga merupakan manifestasi dari Firman Tuhan " Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun " (Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur'an, dan kami pulalah yang menjaganya) QS. 15:9. Penggunaan kata kami (Inna) dalam ayat tersebut menunjukan arti bahwa yang menjaga eksistensi dan keotentikan Al-Qur'an tidak hanya Allah semata, Tapi melibatkan makhluk-makhluk-Nya terkhusus manusia.[4]&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam wajib meyakini kemurnian dan kebersihan Al-Qur'an dari segala perubahan, penggantian, pengurangan, dan penambahan. Amin al-Kurdi dalam bukunya Tanwir al-Qulub mengatakan: " Jika seseorang hendak merubah Al-Qur'an dengan menambah atau mengurangi satu huruf atau satu titik, Niscaya penduduk dunia akan berkata kepadanya engkau telah berbuat bohong. Jika pemikir besar (al-Syaikh al-Muhayyab) merubah satu huruf Al-Qur'an, Niscaya Anak-Anak kecil akan mengatakan kepadanya engkau telah berbuat kesalahan, dan mereka akan membenarkannya. "[5] Kemurnian dan kebenaran Al-Qur'an ini tidak hanya diakui oleh umat Islam semata, tapi sebagian pengkaji keislaman barat (baca; orientalis) pun telah mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan demikian sangatlah penting agar setiap muslim selalu berupaya memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur'an, Upaya pemahaman terhadapnya telah dilakukan oleh para Ilmuan berbagai Generasi sesuai dengan kapasitas intlektualnya masing-masing, yang sebagian hasilnya pun telah kita rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, sebagian orang menuduh bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan kita sekarang telah terkontaminasi oleh perkataan atau tulisan yang bukan Al-Qur'an, Mereka juga menggemborkan Al-Qur'an sekarang tidak mencakup seluruh isinya yang asli, menurut mereka ada lima ratus huruf yang telah dilenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini akan menguraikan perjalanan Al-Qur'an di sepanjang masa, guna membuktikan keaslian dan kemurniannya di masa sekarang sebagaimana saat diturunkannya kepada Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al-Qur'an Di Masa Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada Muhammad Saw. secara bertahap dalam waktu selama dua puluh tiga tahun, Tiga belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah.[6] Al-Qur'an turun dengan menggunakan Tujuh bahasa (Sab'ah Ahruf) Arab, namun arti yang ditunjukkannya hanyalah satu, Beragamnya bahasa Al-Qur'an ini tujuannya untuk mempermudah Umat Islam, khususnya dari kalangan selain Quraish, tujuh bahasa tersebut ialah bahasa Quraish, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, Rasulullah Saw. -karena ingin segera menghafal dan menguasainya- langsung menggerak-gerakkan lidahnya mengiringi bacaan malaikat Jibril, sampai Allah menegur " Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya, Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya. QS. 75:16-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penyampaian wahyu selesai, Rasulullah Saw. langsung memanggil dan memerintahkan para sahabatnya untuk menulis ayat suci yang baru saja diterima sekaligus menunjukkan letak urutan ayat dalam suratnya, diantara para sahabat yang ditugasi mencatat wahyu yang kurang lebih berjumlah enam puluh lima sahabat adalah Abban Ibn Sa'id, Abu Bakar al-Shidiq, Abu Hudzaifah, Abu Sufyan, Hudzaifah, Zaid Ibn Tsabit, Umar Ibn al-Khathab, Abdullah Ibn 'Amr, Utsman Ibn 'Affan, Ali Ibn Abi Thalib, dan seterusnya. Namun ada juga sahabat yang menulis atas inisiatif sendiri.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan ayat Al-Qur'an tersebut terus dilakukan hingga penurunan wahyu selesai, kemudian hasil tulisan para sahabat tersebut disimpan di rumah Rasulullah Saw. Pada saat itu para sahabat di samping menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an yang turun untuk disimpan di rumah Nabi, juga menulis (baca; menyalin) untuk disimpan dan menjadi rujukan serta dokumentasi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diwejangkan disini bahwa pada saat itu Al-Qur'an belum terkumpul dalam satu mushaf, karena memang belum ada tuntutan kondisi untuk mengumpulkannya, juga karena Rasulullah Saw. masih selalu menanti turunya wahyu dari waktu ke waktu, yang terkadang juga ada ayat susulan yang menghapus (Naskh) ayat sebelumnya.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan penulisan wahyu, para sahabat juga selalu menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an yang turun. Sungguh pun demikian para sahabat menyambut hangat terhadap kedatangan kalam Ilahi -mulai dari menulis hingga menghafalkan, baik atas dasar perintah Nabi ataupun kemauan sendiri- itu semua semata-mata atas dasar rasa cinta kepada sumber dan risalah Islam, Juga memang -pada masa Al-Qur'an turun- Masyarakat Arab sangat menggandrungi kesusastraan, sementara Al-Qur'an sendiri turun dengan menggunakan bahasa Arab yang syarat akan dan amat tinggi nilai sastranya. Berbagai riwayat menyatakan para penggede komunitas politheisme (Musyrikin) sering kali berupaya mencuri pendengaran alunan bacaan kalam Ilahi yang dilantunkan oleh kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekak Marwiyyah, Al-Qur'an di masa Rasulullah Saw. Di samping diserap oleh Umat Islam dalam bentuk hafalan (Hafidzah), juga diikat dalam bentuk tulisan (Kitabah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. AL-Qur'an Di Masa Abu Bakar ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah Saw. wafat kepemimpinan beliau digantikan oleh Abu Bakar ra. Di tengah-tengah pemerintahannya pernah terjadi Tragedi besar yang menimpa umat Islam, yaitu peperangan Yamamah di Bi'ru Ma'unah, peperangan tersebut telah merenggut tujuh puluh nyawa Qurra' (Penghafal Al-Qur'an).[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi besar itu sungguh, membuat hati sahabat Umar Ibn Khathab tersentak kaget dan cemas akan "nasib Al-Qur'an di masa depan". Dengan penuh keberanian –tanpa menghiraukan Rasulullah tidak pernah melakukannya- Umar Ibn Khathab meminta kepada Abu Bakar agar mengumpulkan Firman-firman Tuhan yang ditulis di masa Rasulullah Saw. dalam satu mushaf.[11] Pada mulanya Abu Bakar menolak, karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw. Namun, berkat sejuta rayuan Umar Ibn Khathab. Akhirnya Abu Bakar mengijabahi permintaan tersebut. Lalu keduanya sepakat untuk membuat Tim kodifikasi Al-Qur'an yang diketuai oleh Zaid Ibn Tsabit dan dibantu oleh sahabat-sahabat yang lain. Zaid pun pada mulanya menolak, karena di samping hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi, juga sungguh, tugas tersebut amatlah berat, sampai Zaid mengatakan “andai aku ditugasi memindah gunung, niscaya tugas tersebut tidaklah berat bagiku dari pada mengumpulkan Al-Qur’an”, namun pada akhirnya ia dapat diyakinkan juga oleh Abu Bakar. Abu Bakar berpesan kepada Zaid agar tidak menerima tulisan kecuali yang memenuhi dua syarat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tulisan tersebut sesuai dengan hafalan para sahabat.&lt;br /&gt;Kedua, tulisan tersebut benar-benar ditulis atas perintah Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Abu Bakar tersebut merupakan suatu tindakan yang sangat hati-hati terhadap –demi menjaga keotentikan- Al-Qur’an, karena sebagaimana yang telah dijelaskan di muka, bahwa ada sebagian sahabat yang menulis ayat Al-Qur’an atas inisiatif sendiri. Lalu Zaid dan kawan-kawannya pun memulai tugas suci itu di pintu masjid Nabawi, Sedangkan Abu Bakar menyuruh seluruh umat Islam yang merasa memiliki tulisan Ayat-ayat Al-Qur'an agar dibawa ke Masjid Nabawi untuk diseleksi oleh Zaid Ibn Tsabit dan Timnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu Naskah Ayat Al-Qur,an diseleksi, ternyata Zaid Ibn Tsabit menemukan keganjalan dan keganjilan yang memusingkan, beliau dan sahabat-sahabat yang lain hafal ayat "Laqad ja'akum Rasul min anfusikum 'aziz 'alayh ma 'anittum harish 'alaikum bi al-mu'minina Ra'uf al-rahim"QS. 9:128, tapi naskah yang ditulis atas perintah Baginda Rasulullah Saw. tidak ditemukan, namun pada akhirnya ditemukan juga di tangan Abu Khuzaimah al-Anshari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tampak mekar bahwa Zaid mengumpulkan Al-Qur'an tidak hanya mengandalkan hafalan semata, tapi ditopang dengan tulisan yang teruji kevaliditasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disuguhkan kembali, bahwa pada saat itu Al-Qur'an masih menggunakan tujuh bahasa sebagaimana pada masa diturunkannya, sehingga Al-Qur'an hasil tulisan Zaid yang kini terkumpul dalam satu mushaf pun mencakup keseluruhannya. Sejak masa inilah kemudian Al-Qur'an dinamakan dengan mushaf. Mushaf ini kemudian dipegang oleh Abu Bakar ra. hingga beliau wafat, lalu berpindah ketangan Umar Ibn Khathab. Sepeninggal Umar, mushaf itu kemudian dipegang oleh putrinya yang bernama Hafsah binti Umar.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Al-Qur'an Di Masa Utsman Ibn 'Affan ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ekspansi kekuasan Islam membentang luas, para sahabat berpencar diberbagai wilayah kekuasaan, pada umumnya mereka mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakatnya masing-masing. Namun bacaan Al-Qur'an yang mereka tularkan berbeda-beda, antara satu sahabat dengan sahabat yang lainnya tidak sama, kendati masih dalam lingkaran sab'ah ahruf sebagaimana pada masa turunnya. Karenanya, tiap kali umat Islam berkumpul dalam satu pertemuan, sebagian mereka merasa heran terhadap bacaan Al-Qur'an yang didengungkan oleh sebagian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragamnya bacaan Al-Qur'an di masa ini ternyata bukannya menjadi fleksibilitas dialektis sebagaimana pada masa sebelumnya, tapi malah menjadi pemicu keributan yang pada puncaknya saling menuding kafir pada sesama muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khudzaifah Ibn Yaman merasa sangat perihatin terhadap suasana keruh yang melanda umat Islam saat itu, akhirnya dengan penuh harapan beliau menghadap dan meminta kepada sahabat Utsman yang saat itu menjadi Khalifah untuk mendamaikan dan menyatukan umat Islam dengan cara memilih salah satu dari tujuh bacaan Al-Qur'an dan menyingkirkan bacaan yang lainnya. Ternyata tidak hanya Khudzaifah yang merasa perihatin, Khalifah Utsman Ibn 'Affan juga sedang gelisah mencari solusi pengikat kedamaian dan persatuan. Makanya usulan Khudzaifah langsung diterima secara positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Utsman Ibn 'Affan memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Zubair, Sa'id Ibn 'Ash, dan Abdurrahman Ibn Harits untuk menyalin mushaf yang ada di tangan Hafsah binti Umar Ibn Khathab dan memodifnya dengan satu bacaan. Utsman berkata kepada mereka "jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid tentang sesuatu dari Al-Qur'an, maka tulislah dengan bacaan (dilek) Quraish”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Umar melakukan hal tersebut dengn tanpa ragu, karena beliau berpendapat bahwa Rasulullah memperbolehkan ragam bacaan dalam membaca Al-Qur'an tujuannya untuk mempermudah umat Islam yang tidak bisa dialek Quraish, sementara saat ini -mengingat Islam sudah besar- tujuan tersebut sudah tidak relevan, apalagi kini ragam bacaan menjadi pemicu perdebatan panas. Karenanya penulisan Al-Qur'an yang sesuai dengan bacaan Quraish mesti dilakukan agar umat Islam bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan dan penyalinan mushaf yang dilakukan Zaid Ibn Tsabit ini telah menempuh metode khusus, yang disetujui oleh Utsman Ibn 'Affan dan diterima oleh seluruh umat Islam saat itu. Metode tersebut -oleh para Ulama- dinamakan dengan Rasm 'Utsmani, sebuah metode penulisan yang membentuk satu bacaan Al-Qur’an dengan dialek Quraish. Al-Qur'an Rasm 'Utsmani ini kemudian diperbanyak dan dikirim ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan satu dipegang oleh Utsman sendiri di Madinah, yang masyhur dengan sebutan Mushaf al-Imam. Berbarengan dengan penyebaran, Utsman memerintahkan umat Islam untuk meninggalkan dan menghanguskan seluruh Al-Qur'an dokumentasi pribadi dan berpindah ke serta menggantikannya dengan mushaf Rasm Utsmani.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Hukum Metode Rasm Utsmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasm Utsmani adalah Metode penulisan Al-Qur'an yang telah diakui dan diwarisi oleh umat Islam sejak masa Khalifah Utsman Ibn 'Affan. Dalam hal ini umat Islam berbeda pendapat mengenai hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; Tauqifi (Langsung dari Nabi) dan wajib dipakai dalam setiap menulis Ayat Al-Qur'an. Pendapat ini berdasarkan Sabda Rasulullah Saw. kepada Mu'awiyah -salah satu pencatat Wahyu- "Goreskan tinta, tegakkan huruf ya, bedakan sin, janganlah kamu memiringkan mim, baguskan lafadz Allah, Panjangkan Al-Rahman, baguskan Al-Rahim, dan letakkanlah penamu di atas telinga kiri, karena hal tersebut lebih dapat mengingatkanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; Bukan Tauqifi, tapi wajib dipakai dalam setiap penulisan Ayat Al-Qur'an. Sebagian Ulama mengatakan bahwa Rasm Utsmani bukan ketetapan Rasulullah, Ia hanyalah metode penulisan yang disetujui oleh Khalifah Utsman Ibn Affan dan diterima Umat Islam dengan baik, Karenanya menjadi keharusan yang wajib dijadikan pegangan dan tidak boleh dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; Bukan Tauqifi dan tidak wajib dipakai. Sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa Rasm Utsmani hanyalah sebuah nama metode, karenanya tidaklah mengapa tidak menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini Abu Bakar al-Baqillani mengatakan: Dalam menulis Mushaf, Allah tidak mewajibkan metode penulisan sama sekali, karenanya para penulis Firman Tuhan tidak harus menggunakan Khat tertentu, dalam Al-Qur'an ataupun Al-Sunnah tidak ada keterangan satu pun yang mewajibkannya, malah yang ada diperbolehkan menulis Al-Qur'an dengan cara yang mudah, dengan bukti Nabi sendiri ketika memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan Al-Qur’an tidak mewajibkan untuk menggunakan metode khat tertentu.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Proses Penyandangan Rasm Utsmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Al-Qur'an sejak masa Nabi hingga masa penciutan dialeknya (masa Khalifah Utsman Ibn ‘Affan) tidak memiliki sandangan (tanda baca), tulisan Arab "telanjang" seperti itu memang sudah menjadi watak pembawaan orang-orang Arab murni. Namun ketika Bahasa Arab mengalami kerusakan yang disebabkan banyaknya percampuran dengan bahasa lain, Umat Islam banyak yang salah dalam membaca Al-Qur'an, terutama di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian mendorong Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan untuk memberikan sandangan pada Teks Al-Qur'an yang masih telanjang. Lalu sang Khalifah memerintahkan Abu al-Aswad al-Du'ali untuk memberikan sandangan (Syakal). Kemudian Abu Aswad memberi tanda Fathah dengan satu titik di atas huruf, tanda Kasrah dengan satu titik di bawah huruf, Dhammah dengan tanda satu titik di samping huruf, dan Sukun dengan dua titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandangan-sandangan yang diberikan al-Du'ali tersebut, kemudian pada masa selanjutnya dirubah oleh al-Khalil, perubahan tersebut ialah Fathah dengan tanda sempang di atas huruf, Kasrah dengan tanda sempang di bawah huruf, Dhammah dengan tanda huruf Wawu kecil di atas huruf, dan Tanwin dengan mendobelkan tanda baca-tanda baca tersebut. Beliau juga memberi tanda pada Alif yang dibuang dengan Warna Merah, pada tempat Hamzah yang dibuang dengan Hamzah warna Merah tanpa Huruf, pada Nun dan Tanwin yang berhadapan dengan Huruf Halaq diberi tanda Sukun, Nun dan Tanwin ketika Idgham dan Ikhfa' tidak diberi tanda apa-apa, setiap huruf yang dibaca Sukun (Mati) diberi tanda Sukun, dan setiap Huruf yang diidghamkan tidak diberi tanda, tapi huruf setelahnya diberi tanda Syaddah, kecuali pengidghaman Ta' ke dalam Ta', tandanya tetap seperti tidak didghamkan, yaitu Sukun pada Ta' yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada masa selanjutnya terjadi perbaikan dan penyempurnaan sandangan lagi, yaitu dengan memberikan tanda seperti busur pada huruf yang ditasydid, tanda lekuk (semacam huruf Shad) di atas alif washal jika harakat sebelumnya Fathah, Di bawahnya jika harakat sebelumnya Kasrah, dan di tengahnya jika sebelumnya Dhammah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian secara bertahap lagi, Orang-orang meramaikan sandangan lagi pada Teks Al-Qur'an, dengan meletakkan nama-nama surat, bilangan ayat, membubuhkan huruf Mim pada waqaf lazim, huruf La pada waqaf mamnu', dan seterusnya hingga berjubah dan berudeng-udeng.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Isu mushaf Ibn Mas`ud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ibn Mas`ud -salah seorang yang selalu mendampingi Rasulullah Saw.- Sahabat yang di isukan mengingkari surat al-Fatihah, al-Falaq dan al-Nas (al-Muawwidzatain) sebagai bagian dari Al-Qur`an. Riwayat tersebut telah digaungkan oleh Fakhr al-Din al-Razi, juga tertulis dalam shahih bukhori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Nawawi Dalam Bukunya Syarh al-Muhadzdzab mengaanggap batil (tidak shahih) terhadap riwayat tersebut karena bertentangan dengan ijma` umat Islam. Selidah dengan al-Nawawi, Ibn Hazm juga berpendapat demikian, -menurutnya- riwayat tersebut merupakan kedustaan terhadap Ibn Mas`ud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Ibn Hajar dalam mengomentari riwayat di atas mengatakan riwayat tersebut shahih, orang-orang yang mengatakan riwayat di atas batil sama sekali tidak berdasar dan telah melukai kewarasan riwayat-riwayat shahih. Kendati demikian Ibn Hajar dan Pemikir-pemikir klasik yang lain tetap mengakuai surat al-Fatihah dan al-Muawwidzatain sebagai bagian dari Al-Qur`an. Dan mereka memberikan interpretasi terhadap riwayat di atas bahwa pengingkaran Ibn Mas`ud terhadap tiga surat di atas disebabkan beliau tidak pernah mendengar langsung dari Rasulullah Saw. Sehingga beliau tidak memberikan komentar mengenainya (tawaqquf). Selain itu pengingkaran Ibn Mas`ud tersebut tidak berpengaruh –apalagi membatalkan- konsensus umat Islam atas keal-Qur`anan surat al-Fatihah, al-Falaq dan al-Nas.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Ikhtitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, kronologi perjalanan Al-Qur`an dari masa kemasa di atas, telah memperkuat dan merupakan manifestasi dari janji Allah atas keotentikan Al-Qur`an disepanjang masa. Namun kita tak bisa menutup mata dan telinga bahwa tulisan dan bacaan Al-Qur`an yang sampai dan ada ditangan kita hanyalah sebagian kecil dari banyaknya model tulisan dan bacaan dimasa Rasulullah Saw. Wallahu a`lam bi al-shawaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Siswa Kelas 1 Aliyah MHM&lt;br /&gt;Pon. Pes. Lirboyo Kota Kediri Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7059041764312322596-553272776911964006?l=awankfarabi88.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/feeds/553272776911964006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7059041764312322596&amp;postID=553272776911964006' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/553272776911964006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/553272776911964006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/2009/03/meninjau-kembali-keotentikan-al-quran_3777.html' title='MENINJAU KEMBALI KEOTENTIKAN AL-QUR&apos;AN'/><author><name>Khoirul Anwar (Awank Farabi)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18143257713181971243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-tO-GBfJeT24/TkvvluGOkTI/AAAAAAAAAD8/j03XRNEa9Qs/s220/IMG_0621.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7059041764312322596.post-9035763870514349741</id><published>2009-03-26T22:02:00.000+07:00</published><updated>2009-03-26T22:08:14.042+07:00</updated><title type='text'>TEOLOGI MODERAT</title><content type='html'>Sebuah Suplemen Hidup Dan Penawar Frustasi&lt;br /&gt;Oleh: Khairul Anwar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt; Arus globalisasi yang menimpa Bangsa kita tidak hanya membawa dampak positif, namun juga dibuntuti dengan dampak negatif. Diantaranya globalisasi telah mengajak manusia untuk lebih percaya pada "apa yang dicapai dan diketahui secara empirik", dan tidak perlu percaya bahwa "apa yang dicapai berdimensi spiritual". Agama dinilai tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi penetrasi ambiguitas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syahdan, dalam setiap menyelesaikan problematika-problematika hidup, manusia bukan menjadikan Agama sebagai rujukan diagnosis, tapi malah sangat interdependen terhadap peran rasionalismenya. Keterjebakan manusia pada dimensi rasional ini, pada gilirannya akan membawa kepaham sekularisme yang berujung manusia akan melepaskan "baju Agamanya" dan mem"bunuh Allah" dalam kehidupan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Waba`du, Ditengah-tengah arus globalisasi orang-orang banyak mengeluh kesah, putusasa, frustasi dengan beraneka ragamnya hingga bunuh diri, karena gagal dalam menggapai cita-cita. Kegagalan dan keberhasilan manusia dalam bertindak tidak bisa dilepaskan dari pembahasan teologi mengenai intervensi Tuhan dalam perbuatan manusia dan kebebasan manusia dalam bartindak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tulisan ini berusaha menegasikan persoalan tersebut menurut teropong ilmu Tauhid (teologi), guna merekonstruksi  dan merenungkan kembali kepercayaan keagamaan&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Intervensi Tuhan dalam perbuatan manusia merupakan persoalan yang bersifat metafisik, sehingga menjadikan manusia terkotak-kotak dalam memahaminya. Dari banyaknya pendapat -sebagaimana yang terekam dalam karya monumentalnya Al-Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal- Penulis hanya akan menampilkan tiga pendapat saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertama; Mu`tazilah, menurut kelompok ini, Tuhan lepas tangan dalam kehendak dan perbuatan manusia, manusia memiliki kebebasan mutlak dalam bertindak. Jagonya Washil Ibn ‘Atha [1] mengatakan: Allah adalah hakim yang maha adil, karenanya keburukan dan kedzaliman tidak dapat disandarkan kepadanya. Allah tidak mungkin menghendaki sesuatu dari manusia yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan-Nya. Allah juga mustahil menyiksa manusia karena melakukan suatu perbuatan yang bukan dari manusia sendiri, manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik ataupun buruk, maksiat, kufur atau pun taat. Manusia akan menerima siksaan atau pahala atas perbuatan dzalim atau baik yang mereka lakukan. Dalam mempertahankan pendapatnya mereka membangun sejumlah argumentasi rasional yang diperkuat dengan dalil Naqli (Al-Qur`an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Argumen rasional yang mereka gaungkan ialah jika perbuatan manusia merupakan perbuatan Tuhan           -karena kekuasaan mutlak-Nya- niscaya perbuatan buruk juga perbuatan Tuhan, padahal Tuhan adalah sentral dari segala kebaikan, apalagi jika kita sadar –kata mereka- bahwa pada saatnya nanti Allah akan membalas perbuatan hamba-hamba-Nya, jika perbuatan manusia bukan perbuatannya sendiri, melainkan perbuatan Allah, berarti perlakuan Allah dalam menghukum para pelaku jahat dan dosa yang pada hakikatnya perbuatan Allah sendiri adalah suatu tindakan dzalim.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Argumentasi di atas berdasarkan kalam Tuhan "Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". QS. 32 : 17 "Dan katakanlah; kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir ". QS. 18 : 29 dan "sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keaadaan yang ada pada diri mereka sendiri" QS. 13 : 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedua; Jabariyyah, menurut kelompok ini, manusia sama sekali tidak memiliki kebebasan dalam bertindak. Salah satu tokohnya Jaham Ibn Shafwan [3] mengatakan: manusia tidak memiliki daya, kehendak dan pilihan untuk berbuat, semua perbuatan manusia hanyalah paksaan Tuhan (Majbur), oleh karenanya  manusia dikatakan berbuat bukan dalam arti sebenarnya, melainkan dalam arti majazi, sebagaimana yang terjadi pada benda mati, pohon berbuah, matahari terbit dan tenggelam, batu bergerak, langit berawan, hujan turun, biji-bijian tumbuh dan yang lainnya. Semua perbuatan manusia merupakan paksaan Tuhan yang harus diterima, termasuk melaksanakan kewajiban, menerima pahala dan siksaan (Taklif).[4] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak kalah garangnya dengan kelompok pertama, kelompok kedua juga menghamparkan pendapatnya pada firman Allah "Sebenarnya yang membunuh mereka bukanlah kamu, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar ". QS. 8 : 17. dan "Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui lagi maha bijaksana". QS. 76 : 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketiga; Asy`ariyyah (Ahl al-Sunnah) [5], menurut kelompok ini -yang dipelopori oleh Abu Al-Hasan Al-Asy'ari-  Manusia disamping ikut andil dalam mewujudkan perbuatan, Allah juga ikut turun Tangan dalam merealisasikannya. Kelompok ini memposisikan Allah sebagai pencipta semua perbuatan sekaligus memberikan ruang kehendak kepada manusia (ikhtiar). Manusia tidak mutlak dapat berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri, juga tidak berpangku tangan secara total terhadap kehendak Tuhan tanpa diberi ruang inisiatif sedikitpun. Teori ini mereka menamakannya dengan al-Kasb.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Teori al-Kasb bertalian erat dengan Qadha dan Qadar yang juga dibangun oleh kelompok ketiga (Ahl al-Sunnah). Menurutnya Qadha ialah keputusan Tuhan yang telah tercatat sejak zaman azali, sedangkan Qadar ialah manifestasi (perwujudan) dari Qadha. Di zaman Azali Allah sudah memutuskan (mentakdirkan) seseorang sebagai orang yang beruntung atau celaka, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, punya istri cantik atau jelek dan seterusnya. Namun manusa wajib selalu berusaha (ikhtiar) untuk menjadi manusia terbaik (insan kamil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlu diwejangkan di sini, bahwa percaya kepada Takdir Tuhan tidak boleh lantas dijadikan sebagai kambing hitam dalam melakukan suatu perbuatan sebelum terlaksana. Sebagai contoh, seseorang menganggap dirinya telah ditakdirkan berbuat zina, dengan maksud agar keinginan nafsunya tercurahkan. Anggapan semacam ini sungguh amat keliru dan tersesat, karena secara tidak langsung dia mengaku telah membongkar rahasia Tuhan. Apa yang telah ia lakukan semata-mata atas dasar dorongan nafsu dan pilihan (ikhtiar) pribadinya, karena itu ia kelak pantas untuk disiksa sebagai balasan atas perbuatan yang telah ia lakukan.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt; Kehendak dan perbuatan manusia -menurut Mu’tazilah- murni hasil karyanya sendiri (lepas dari campur Tangan Tuhan), pendapat ini secara tidak langsung telah menyingkirkan aktorisasi Tuhan, yang berdampak melahirkan sikap liberalisme yang tanpa disadari akan menjalar kesekulerisme dan kapitalisme dalam semua aspek kehidupan, yang menjunjung tinggi kebebasan individu untuk meraup kebahagiaan dunia setinggi-tingginya, lepas dari nilai-nilai sosial. Hal ini mendorong lahirnya masyarakat yang mengumbar hawa nafsu, ketamakan dan kerakusan, suatu masyarakat yang diancam oleh Tuhan akan dilempar kedalam api yang menyala. QS. 104 : 1-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sedangkan menurut kelompok kedua (jabariyyah), perbuatan manusia pada hakikatnya adalah perbuatan Tuhan, menurut kelompok ini, manusia tak ubahnya wayang yang dijogedkan oleh dalang. Pandangan demikian –hemat penulis- tak kalah bahayanya dengan kelompok pertama, yaitu akan berdampak menjadikan kemandulan etos kerja, melumpuhkan manusia untuk memperbaiki nasib “dari keterpurukan menuju kebebasan, dari keterbelakangan menuju kemajuan” dan pada giliranya akan memperkuat asumsi sebagian orang “bahwa Islam adalah Agama yang menghambat kemajuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terlepas dari berbagai keraguan dan kecurigaan –secara jujur hemat penulis teori ketiga ini masih perlu dikaji ulang- kelompok ketigalah yang sangat relevan dan wajib diyakini serta diamalkan di masa sekarang, karena disamping memberikan kebebasan dan kehendak kepada manusia, juga memposisikan Tuhan sebagai penentu,  konsep ini mendorong manusia untuk selalu berusaha, berkarya dan berkreasi, namun berhasil atau tidaknya ada di tangan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sungguh, konsep inilah yang harus ditanamkan di dalam hati. Karena Dengan kebebasan dan kehendak yang dimiliki, manusia terdorong untuk selalu berusaha menggapai cita-cita gemilang. Dan dengan berperannya Allah dalam memutuskan usaha, manusia akan sadar bahwa apa yang ia dapatkan dan apa yang tidak ia dapatkan, serta berhasil atau rugi dalam mengarungi samudra kehidupan untuk menuju pantai kebahagiaan atau kesusahan abadi (akhirat) semata-mata sudah menjadi suratan Tuhan (Takkdir). Konsep Teologi seperti inilah yang bisa menjadi suplemen hidup bagi manusia yang sedang malas dan frustasi, serta menjadi penawar frustasi bagi manusia yag sedang mengalami kegagalan dan keputusasaan. Wallahu a’lam bi al-shawaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Siswa Kelas 1 Aliyah MHM&lt;br /&gt; Pon. Pes. Lirboyo Kota Kediri Jatim.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7059041764312322596-9035763870514349741?l=awankfarabi88.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/feeds/9035763870514349741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7059041764312322596&amp;postID=9035763870514349741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/9035763870514349741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7059041764312322596/posts/default/9035763870514349741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://awankfarabi88.blogspot.com/2009/03/teologi-moderat-sebuah-suplemen-hidup.html' title='TEOLOGI MODERAT'/><author><name>Khoirul Anwar (Awank Farabi)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18143257713181971243</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-tO-GBfJeT24/TkvvluGOkTI/AAAAAAAAAD8/j03XRNEa9Qs/s220/IMG_0621.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
